Arogan dan Main Hakim Sendiri, “Raja Hulaliu” Dilaporkan ke Polsek Pelauw

Ambon, Malukuexpose.com – Kepemimpinan Raja Negeri Hulaliu, Abraham Tuanakotta, kini menjadi sorotan tajam. Bukannya menjadi pengayom bagi masyarakat, raja yang dilantik pada tahun 2023 ini justru diduga mempertontonkan aksi premanisme dengan melakukan penganiayaan terhadap warganya sendiri.

Tindakan tidak terpuji ini berujung pada laporan resmi ke Polsek Pelauw, menyusul dugaan aksi main hakim sendiri yang dilakukan sang raja bersama kroni-kroninya.

‎Dikarenakan mendengar dirinya dikatain “Bapa Raja Bodoh” oleh korban karena tidak mampu menyelesaikan masalah yang terjadi baru-baru ini di Negeri Hulaliu, Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

‎Dari keterangan yang didapat media ini, Menurut keluarga korban P Siahaya bahwa masalah ini bermula dari kasus penembakan salah satu warga Hulaliu oleh Orang Tak Kenal (OTK) yang baru pulang kerja dari hutan.

‎Korban bersama keluarga besar yang didalamnya terdapat ketua saniri berbondong-bondong ke kantor Pemerintah Negeri Hulaliu untuk membuat laporan dari kasus ini.

‎Akan tetapi, dalam pelaporan tersebut Pemeneg Hulaliu terkesan lambat dalam mengatasi masalah ini. Sehingga keluarga menindaklanjuti ke pihak kepolisian yakni Polsek Pelauw.

‎Berapa waktu kemudian, Ketua Saniri yang juga keluarga dari korban bersama Kepala Soa diundang untuk memberikan  keterangan.

‎”Akan tetapi bukannya diminta untuk kasih keterangan, Ketua Saniri bahwa dituduh memprovokasi masa (Keluarga), padahal kedatangan Ketua Saniri beretikat baik untuk memberikan keterangan bukan untuk memprovokasi,” ungkapnya kepada media ini, Rabu (14/01/26).

‎”Selain dituduh memprovokasi, raja juga melakukan tindakan fisik terhadap ketua Saniri didepan Kapolsek,”akuinya.

‎Mendengar kasus penganiayaan, lanjutnya Keluarga ketua Saniri pun tidak terima atas tindakan yang dilakukan.  sehingga mereka pun menghampiri raja dari rumah hingga kantor Pemerintah Negeri Hulaliu.

‎”Tetapi Raja Negeri Hulaliu melarikan diri” katanya.

‎Dari sini perkataan “Bapa Raja Bodoh” terucapkan oleh salah satu keluarga korban penembakan dan juga Ketua Saniri.

‎Perkataan yang dikeluarkan, bukan di TKP akan tetapi sudah saat berjalan menuju pulang dari TKP saat sedang berbincang-bincang dengan anak dari Ketua Saniri membahas kasus pemukulan  yang dilakukan raja.

‎Dan perkataan “Bapa Raja Bodoh” ini terdengar oleh salah satu simpatisan dan disampaikan langsung kepada raja.

‎Sehingga, tak lama kemudian Raja Negeri Hulaliu bersama antek-anteknya menuju ke lokasi orang tersebut yang sedang didepan warungnya.

‎Tanpa banyak tanya, Raja pun melakukan pemukulan terhadap orangnya menyebut  “Bapa Raja Bodoh” bersama antek-anteknya.

‎Jadi, masalah ini bukan saja baru, akan tetapi sudah Berulang-ulang kali untuk kasus intimidasi dan penganiayaan terhadap masyarakat setempat.

‎Masyarakat pun sudah bisa menilai bahwa, Raja Negeri Hulaliu Abraham Tuanakotta ini sudah seperti “PREMAN”.

‎”karna sedikit-sedikit main tangan dan dan hakim sendiri tanpa ada bangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, ” bebernya.

‎”Paling tidak raja bisa memahami kapasitas nya sebaga raja bukan sebagai preman” ungkpanya.

‎Dari masalah ini, diakui Siahaya bahwa pihak keluarga Ketua Saniri sudah melakukan pelaporan resmi ke Polsek Pelauw terkait penganiayaan.

‎Dan meminta Polsek Pelauw untuk masalah ini dapat diproses secara baik dan tepat hukum, agar ada efek jera terhadap pimpinan pemerintah negeri Hulaliu ini

‎​Kasus ini juga diharapkan, menjadi bahan evaluasi serius bagi ​Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah Untuk meninjau kembali kompetensi dan etika pejabat negeri yang arogan dan DPRD Kabupaten Maluku Tengah Untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku pemimpin daerah yang kerap mengintimidasi rakyat kecil. (M13E)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Silahkan Bagikan :

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *