“Binar Smansa”, Langkah Strategis SMAN 1 Ambon Tanamkan Nilai Dasa Darma ke Siswa
@malukuexpose Agustus 19, 2026 0
Ambon, Malukuexpose.com — Di tengah gempuran arus modernisasi yang kerap mengikis etika generasi muda, SMAN 1 Ambon mengambil langkah progresif kecerdasan akademis tak lagi dijadikan satu-satunya tolok ukur utama.
Menyongsong HUT ke-81 Provinsi Maluku, sekolah menengah favorit ini meluncurkan strategi terobosan bertajuk “Binar Karakter Smansa” untuk memastikan para siswanya tak sekadar pintar di atas kertas, tetapi juga berintegritas tinggi.
Kepala SMAN 1 Ambon, Dra. Elonamayo Laturiuw, M.Si., yang secara tegas menempatkan fondasi moral di atas capaian kognitif melalui slogan sekolah, “Berkarakter Kuat dan Cerdas”.
”Siswa yang masuk ke SMAN 1 Ambon pada dasarnya sudah memiliki taraf inteligensi yang tinggi. Namun, cerdas saja tidak cukup. Oleh karena itu, fokus utama kami adalah menggembleng karakter mereka agar seimbang antara kognitif, afektif, dan psikomotorik,” tegasnya kepada awak wartawan saat mempromosikan program tersebut, Rabu (19/08/26).
Implementasi program Binar Karakter Smansa, Lanjutnya direalisasikan melalui kemitraan taktis bersama Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Ambon.
Berbeda dari kegiatan kepanduan konvensional, program ini memboyong nilai-nilai kepramukaan langsung ke dalam ruang kelas.
Setiap awal bulan, para pelatih dan pembina dari Kwarcab diterjunkan secara rutin untuk mendampingi siswa.
“Momen ini dimanfaatkan untuk menginternalisasi nilai-nilai Dasa Darma Pramuka seperti kepedulian sosial, cinta alam, serta sikap saling menghargai menjadi perilaku harian para murid,” Katanya.
Tak berhenti di situ, diakui Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Ambon , SMAN 1 Ambon juga memperkuat iklim belajar dengan menerapkan program Budaya Sekolah Aman serta menggandeng Yayasan Leimena dalam program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).
Kendati berbagai terobosan telah dijalankan di lingkungan sekolah mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan mental siswa sangat bergantung pada ekosistem di luar sekolah, terutama peran aktif keluarga.
”Waktu anak di sekolah sangat terbatas, sedangkan porsi terbesar kehidupan mereka ada di rumah. Di usia ke-81 Provinsi Maluku ini, mari seluruh elemen dan orang tua bergandengan tangan. Sekolah dan rumah harus selaras untuk melahirkan profil lulusan anak Maluku yang tak hanya berotak encer, tetapi juga berkarakter baja,” tutupnya. (M13E)
