Podcast Ngobras RRI Ambon: Jangan Asal Sebar, Viral Belum Tentu Benar

Ambon, MalukuExpose.com – Di era ketika sebuah informasi hanya membutuhkan hitungan detik untuk menjadi viral, masyarakat dituntut tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi penyaring informasi.

Maraknya hoaks, judul provokatif, framing pemberitaan hingga informasi yang disebarkan tanpa verifikasi menjadi tantangan serius dalam membangun ruang digital yang sehat.

Persoalan ini menjadi pembahasan utama dalam Podcast Ngobras (Ngobrol Bareng Komunitas) RRI Ambon bertajuk “Media, Etika, dan Ruang Digital: Menjaga Informasi Tetap Sehat”, Selasa (14/4/2026) malam.

Podcast tersebut menghadirkan Ketua AJI Ambon R. Khairiyah, Ketua Tim Periksa Fakta Mafindo Maluku M. Sahril Salamena, serta Sekretaris AMSI Zairin Embong Salampessy. Diskusi dipandu Theis de Kock selaku pewara.

Dalam diskusi itu, para narasumber mengingatkan bahwa derasnya arus informasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan sikap kritis. Sebab, banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi bukan berarti informasi tersebut otomatis benar.

Ketua Tim Periksa Fakta Mafindo Maluku, M. Sahril Salamena, meminta masyarakat membangun kebiasaan memeriksa informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

“Jangan karena informasi itu sudah banyak dibagikan kemudian kita menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Masyarakat harus membiasakan diri melakukan pemeriksaan sebelum percaya dan sebelum membagikan informasi,” kata Sahril.

Menurutnya, literasi digital menjadi benteng penting dalam menghadapi penyebaran hoaks. Masyarakat perlu melihat siapa sumber informasi, memahami konteks, serta membandingkan informasi dengan sumber terpercaya.

Di sisi lain, Ketua AJI Ambon R. Khairiyah menyoroti pentingnya etika dalam menggunakan ruang digital, khususnya bagi jurnalis. Kebebasan berekspresi, kata dia, harus berjalan bersama tanggung jawab.

“Kebebasan berekspresi tetap harus dihormati, tetapi kebebasan itu juga harus disertai dengan tanggung jawab. Terutama bagi jurnalis, informasi yang disampaikan kepada publik harus melalui proses verifikasi dan tetap berpegang pada kode etik jurnalistik,” ujar Khairiyah.

Sementara itu, Sekretaris AMSI Zairin Embong Salampessy menyoroti persoalan framing yang dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah peristiwa.

Menurut Zairin, pemilihan judul, bahasa, sudut pandang hingga narasumber memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik. Karena itu, media dituntut tetap menarik bagi pembaca tanpa mengorbankan akurasi.

“Media memang membutuhkan perhatian audiens, tetapi jangan sampai keinginan mendapatkan klik dan pembaca kemudian membuat isu dieksploitasi. Berita harus tetap menarik tanpa mengorbankan akurasi dan kepentingan publik,” ujar Zairin.

Para narasumber sepakat, membangun ekosistem informasi yang sehat bukan hanya tugas jurnalis maupun perusahaan media. Pengguna media sosial juga memiliki tanggung jawab yang sama.

Setiap orang memiliki peran untuk menghentikan rantai penyebaran informasi palsu dengan cara sederhana: berhenti sejenak sebelum membagikan, memeriksa sumber, dan memastikan informasi tersebut benar.

Podcast Ngobras RRI Ambon pun menjadi pengingat bahwa di tengah perlombaan menjadi yang tercepat di ruang digital, kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran.

Sebab, satu klik untuk membagikan informasi mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik, tetapi dampak dari informasi yang salah bisa jauh lebih panjang.

(dp-53) 

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Silahkan Bagikan :

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *